| Kode: 206992 | Tanggal: 2010/10/01 | Sumber: | print |
Nabi Muhammad saww Adalah Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah |
Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu adalah dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan hal itu telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. Sebagaimana dalam Sunni telah menyebutkan nama-nama mereka penjelasan Nabi Muhammad saww, bahwa yang pertama adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya ialah putranya yakni al-Hasan as,kemudian saudaranya al-Husein as, sedang yang terakhir ialah al-Mahdi. Sebagaimana tersebut dalam hadis berikut ini : Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad, ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Aallah SWT karena petunjuk-Nya.”(1)
Seandainya kita mau membuka lembaran kitab-kitab Syi’ah dan apa yang terkandung di dalamnya, dari hal kebenaran khusususnya tentang masalah ini niscaya kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan. Dan yang dapat menambahkan kayakinan bagi kita ialah, bahwa Imam yang ke-12 dari Ahlulbait itu tidak pernah belajar pada satu orang pun dari para ulama umat ini, tidak ada yang meriwayatkan pada kita baik para ahli tarikh maupun ahli hadis dan sejarawan, bahwa salah seorang Imam dari Ahlulbait itu mendapatkan ilmunya dari sebagian sahabat atau tabi’in sebagaimana halnya para ulama umat dan para imam mereka. Sebagaimana Abu Hanifah belajar kepada Imam Ja’far ash -Shadiq dan Malik belajar kepada Abu Hanifah sedang Syafi’i mendapat ilmu dari Malik dan ia mengambil darinya, begitu pula Ahmad bin Hanbal. Adapun para imam Ahlulbait maka ilmu mereka adalah merupakan pemberian dari Allah SWT yang mereka mewarisi dari Bapak yang berasal dari datuk mereka, mereka itulah yang diistimewakan oleh Allah SWT dengan firmannya:“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.” (QS.Fathir:32) Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat...?”
Ya, bagaimana Imam ash-Shadiq tidak mengherankan mereka itu yang mendakwahkan diri telah mengambil ilmu dari Rasulullah saww, padahal mereka memusuhi Ahlulbait beliau dan pintu ilmunya yang melalui dirinya ilmu itu diberikan, bagaimana tidak mengherankan penempatan nama Ahlussunnah, padahal mereka sendiri penentang sunah itu. Dan bila Syi’ah sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, mereka itu mengistimewakan ‘Ali dan membelanya serta mereka berdiri tegak menentang musuhnya, memerangi orang yang memeranginya, dan damai dengan orang yang damai dengannya dan mereka telah mengambil seluruh ilmu darinya. Maka Ahulussunnah wal Jama’ah itu tidaklah mengikuti dan ingin membinasakannya, dan mereka telah meneruskan sikap itu terhadap anak keturunan setelahnya dengan pembunuhan, penjara, dan pengusiran. Mereka telah bertentangan dengannya dalam kebanyakan hukum dengan dasar mengikuti para pendakwah ilmu pengetahuan yang mereka itu saling berselisih sesuai dengan pendapat dan ijtihad mereka dalam perkara hukum Allah, lalu mereka menggantikannya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan yang mereka tuju. Dan bagaimana kita sekarang tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan mengikuti sunah Nabi saww, dan menyetakan sendiri telah meninggalkan sunah Nabi saww karena ia telah menjadi Syi’ah bagi Syi’ah, (2) bukanlah ini merupakan hal yang mengherankan? Bagaimana kita tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedang mereka merupakan kelompok yang banyak, seperti pengikut Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali yang mereka itu saling berselisih sebagian dengan lainnya dala hukum-hukum fiqih dan menganggap bahwa perselisihan itu adalah merupakan suatu rahmat bagi mereka, sehingga dengan demikian agama Allah SWT menjadi lampiasan hawa nafsu dan pendapat serta sasaran selera diri mereka. Memang benarlah, bahwa mereka adalah kelompok terbanyak yang saling berpecah-belah dalam hukum Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi mereka bersatu dan bersepakat dalam mengesakan kekhalifahan Saqifah yang durhaka dan bersepakat dalam meninggalkan dan menjauhkan keluarga Nabi saww, yang Suci. Bagaimana kita tidak heran terhadap mereka itu yang membanggakan diri sebagai Ahlussunnah, padahal mereka telah meninggalkan yang berharga yakni Kitabullah dan keluarga Rasul betapapun mereka sendiri telah meriwayatkan hadis tersebut dan menshahihkannya...? Sesungguhnya mereka itu tidak berpegang baik pada Al-Qur’an maupun pada keluarga Rasul, sebab dengan meninggalkan keluarga Rasul yang suci itu berarti mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, karena hadis yang mulia menetapkannya bahwa Al-Qur’an dan keluarga Rasul itu tidak pernah berpisah selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah telah menyatakan hal itu dengan sabdanya: “Tuhan Yang Maha Halus lagi Maha Sadar telah memberitahukan padaku bahwa keduanya yakni Aal-Qur’an dan keluarga Rasul tidak akan pernah berpisah sehingga menemui aku di telaga surga.”(3) Dan bagaimana kita tidak heran kepada kaum yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah padahal mereka bersikap menentang terhadap apa yang telah ditetapkan dalam kitab shahih mereka dari hal perbuatan Nabi saww dan perintahnya serta larangannya.(4) Adapun bila kita meyakini dan membenarkan hadis, “aku tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.” Sebagaimana yang telah ditetapkan bagi sebagian Ahlussunnah sekarang ini, maka keheranan itu akan menjadi lebih besar dan kecelakaan itu akan lebih jelas. Karena justru para tokoh mereka dan imam mereka itulah orang-orang yang telah membakar sunah yang telah ditinggalkan Rasulullah saww di kalangan mereka, dan telah mencegah periwayatannya dan penulisannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pembahasan terdahulu. Umar bin khatab sendiri dengan terang-terangan telah menyatakan ucapan, “Cukup bagi kami Kitabullah,” itu adalah merupakan penolakan yang nyata terhadap Rasulullah saww, sedangkan orang yang menolak Rasulullah berarti menolak Allah SWT sebagaimana hal itu tak bisa disembunyikan lagi. Ucapan Umar bin Khathab tersebut telah diriwayatkan oleh seluruh hadis-hadis shahih Ahlussunnah termasuk di dalamnya Bukhari dan Muslim. Apabila Nabi saww telah bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, dan kami tidak membutuhkan sunahmu, dan bila Umar telah berkata dihadapan Nabi saww, “Cukup bagi kami Kitabullah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah menguatkan untuk mewujudkan pandangan temannya itu lalu ia menyatakan setelah menjadi Khalifah: Janganlah kalian meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah saww, maka jika seseorang bertanya pada kalian, katakanlah di antara mereka kita dan kalian ada Kitabullah, maka halalkanlah apa yang telah dihalalkannya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan. (5). Bagaimana kita tidak heran terhadap kaum yang telah meninggalkan sunah Nabi saww mereka dan membelakanginya lalu mereka menggantikan kedudukannya dengan suatu bid’ah yang mereka perbuat yang mana tidak diizinkan oleh Allah SWT, kemudian mereka menamakan diri dan pengikutnya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah...? Tetapi keheranan tersebut akan musnah ketika kita katahui bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya tidak mengenal pemberian nama tersebut selama-lamanya. Inilah Abu Bakar yang telah menyatakan: Jika kalian membebani aku dengan sunah Nabi saww, niscaya aku tidak akan mampu. (6). Bagaimana mungkin Abu Bakar tidak mampu menjalankan sunah Nabi saww? Apakah sunah beliau itu suatu perkara yang mustahil dilaksanakan, sehingga Abu bakar tidak mampu? Bagaimana Ahlussunnah bisa mendakwahkan diri berpegang padanya jika tokoh mereka yang pertama dan pembina mazhab mereka itu tidak mampu melaksanakan sunah? Bukankah Allah SWT menyatakan, “Pada diri Rasulullah suatu tauladan yang baik bagi kalian .” (QS. al-Ahzab:21) dan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang kecuali semampunya.” (QS. at-Thalaq:7) Dan juga firman-Nya, “Dan tidak menjadikan suatu kesulitan bagi kalian dalam agama.” (QS. al-Haj :78) Apaakah Abu Bakar dan temannya Umar menganggap bahwa Rasulullah telah menciptakan suatu agama yang bukan diturunkan oleh Allah SWT, lalu beliau memerintah kaum Muslim ini dengan sesuatu yang tak terangkat dan membebani mereka dengan kesuliatan? Hal itu tidak mungkin, bahkan yang sering beliau katakan yakni, “Gembirakanlah dan jangan jadikan mereka lari, mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian keringanan maka jangan kalian memberatkan diri kalian sendiri.” Tetapi pengakuan Abu Bakar bahwa ia tidak mampu melaksanakan sunah Nabi saww itu adalah menguatkan apa yang menjadi pendapat kami bahwa ia telah melakukan suatu bid’ah yang mampu ia laksanakan sesuai dengan keinginannya dan sejalan dengan politik yang ia kuasai. Dan mungkin Umar bin Khathab berpandangan yang lain, bahwa hukum-hukum Al-Qur’an dan sunah itu tak mampu dilaksanakan, lalu ia sengaja meninggalkan shalat ketika ia junub sedangkan air tidak didapatinya dan ia berfatwa demikian di saat kekhalifahannya, sedang orang khusus dan yang umum telah mengetahui hal itu dan seluruh ahli hadis telah meriwayatkan itu darinya. Hal itu dikarenakan Umar adalah orang yang gemar banyak bersetubuh dan dialah yang disinggung oleh firman Allah SWT, “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri kalian lalu Dia mengampuni kalian.” (Qs. al-Baqarah: 187) Ini lantaran ia tidak mampu menahan diri dari bersetubuh di waktu puasa, dan dikarenakan air sangat sedikit maka Umar berpendapat bahwa yang paling mudah ialah meningalkan shalat dan bersantai-santai sampai ia mendapatkan air yang mencukupi untuk mandi, ketika itu baru ia kembali mengerjakan shalat. Adapun Utsman maka ia benar-benar telah mengabaikan sunah Nabi saww sebagaimana yang telah dikenal, sehingga ‘Aisyah mengeluarkan baju Nabi saww dan berkata, “Sungguh Utsman telah menghancurkan sunah Nabi saww sebelum baju beliau sendiri menjadi rusak.” Sehingga ia dicela oleh para sahabat bahwa ia telah menentang sunah Nabi saww, dan sunah Abu Bakar, Umar dan mereka pun membunuhnya lantaran itu. Mengenai Muawiyah, terserah apa yang Anda katakan, tidak mengapa, sesungguhnya ia telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunah adalah dariku dan aku darinya, siapa yang mencaci ‘Ali sungguh telah mencaciku dan siapa yang mencaciku sungguh ia telah mencaci Allah SWT,” Kita dapati Muawiyah telah mengarahkan cacian dan kutukan padanya ia belum merasa cukup dengan itu sehingga ia memerintahkan seluruh wali-walinya dan para pegawainya untuk mencaci dan mengutuknya, siapa yang menolak di antara mereka maka ia disingkirkan dan dibunuh. Dan kita telah mengetahui bahwa Muawiyah itu adalah orang yang telah menamakan dirinya dan pengikutnya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah dalam rangka menentang penamaan Syi’ah sebagai pengikut kebenaran. Dan sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa tahun dimana Muawiyah memegang penuh kekuasaan umat Islam, setelah mengadakan perjanjian dengan al-Hasan bin ‘Ali Thalib bin Abi Thalib, maka tahun itu dinamakan tahun jama’ah. Dan keheranan pun akan hilang ketika kita memahami bahwa kata-kata sunah itu tidak dimaksudkan oleh Muawiyah dan pengikutnya kecuali hanyalah pengutukan ‘Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar Islam pada setiap hari Jumat dan hari Raya. Apabila Ahlussunnah wal Jama’ah itu merupakan rekayasa Muawiyah bin Abi Sofyan maka kita memohon pada Allah SWT agar mematikan kita di dalam bid’ah rafidhi yang telah dibina oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait (salam atas mereka). Anda tidak usah kaget wahai pembaca yang mulia, bila Ahlul bid’ah dan kesesatan itu menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah sedang imam-imam yang suci dari Ahlulbait itu menjadi Ahli bid’ah. Inilah al-Allamah Ibnu Khaldun yang termasuk ulama termasyhur dari Ahlussunnah wal Jama’ah, ia menyatakannya dengan tegas setelah ia memerinci mazhab-mazhab jumhur ia mengatakan, “Ahlulbait itu menjadi terasing karena aliran faham yang mereka adakan dan fiqih yang berlainan dan mereka telah membina mazhab mereka atas dasar pencacian sebagian sahabat.” (7)).
Wahai pembaca, bukankah saya telah katakan dari semula, seandainya Anda berbuat sebaliknya niscaya Anda benar/tepat. Maka jika orang-orang fasik dari kalangan Bani Umayah mereka itu adalah Ahlussunnah dan Ahlulbait itu adalah Ahli bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, maka buat Islam ucapan selamat jalan dan buat dunia ucapan selamat datang.
Foot note
- ini adalah fitnah besar..sungguh yang menulis ini laknatullah...
- Alhamdulillah..
- Wahhh. Kata-katanya memancing emosi dan menyakitkan hati
- Tolong tunjukin mana hadits yang dimaksud dalam artikel ini yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw telah menunjuk secara langsung nama-nama ke 12 Imam versi syi'ah !!!!
Bisa gak ya ???
kayaknya gak bisa tuh !!!
Kalo cuma OMDO (kata kacung2/agen2 Syi'ah Balak 12) anak kambing juga bisa !!!
[ibn asnawi]
- harus antum yg tunjukin fitnah itu
coba antum lihat dulu referensinya lalu buktikan kalau dia bohong....
Riwayat al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 440, dan Faraid as-Samthain oleh al-Humawaini dengan sanad dari Ibnu Abbas.
- Iblis tidak akan pernah membiarkan kebenaran itu jelas
terlihat.selalu berusaha untuk menyesatkan manusia.
iblist itu sangat pintar ,karena ia hidup lebih dahulu dari manusia.tipudaya dan ucapannya hampir terkesan benar
karena seringnya membawa nama allah. [sartono]
- AHLUL BAIT, CELAH ANTARA SUNNI DAN SYIAH
Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.
1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.
2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.
3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.
Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:
1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' sudah meninggal terlebih dahulu.
2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.
3. Isteri-isteri beliau.
4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.
Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, dan ada anak lelaki pula, wah masalah pewaris tahta 'ahlul bait' akan semakin seru dan hebat.
Mungkin inilah salah satu mukjizat atau hikmah, mengapa Saidina Nabi Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai dewasa dan berketurunan?. Pasti, perebutan waris tahta ahlul baitnya akan semakin dahsyat.
Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita nasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah, ya jika merujuk pada Al Quran tidak bisalah.
Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka ya seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.
Jadi sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari kembali ke nasab laki-laki.
Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta 'ahlul bait'.
Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta 'ahlul bait' yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.
Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya dan keturunan berikutnya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait, mereka murni adalah bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib.
Dengan demikian sudah waktunya kita menutup debat masalah Ahlul Bait ini. Fihak-fihak baik sunni, habaib maupun syiah yang selama ini saling mengklaim bahwa mereka adalah keturunan ahlul bait itu, sebenarnya telah menimbulkan peruncingan hubungan keislamannya.
[elfan]
- Apa dasarnya bahwa nasab ahlulbait harus kepada laki-laki? Apakah Imam Husain dan Imam Hasan bukan cucu Nabi Muhammad Saww??
- yang blm tau tentang ahlul bait nabii supaya melihat tentang ayat mubahalah,hadist kisa.tp wahaboi ngambil sumber dari muawiyah ya tdk akan ketemu.... [abu najiib]
- yang blm tau tentang ahlul bait nabi supaya melihat tentang ayat mubahalah,hadist kisa.tp wahaboi ngambil sumber dari muawiyah ya tdk akan ketemu.... [abu najiib]
- INi fitnah dari syiah kaya gini niy... [joni]
- Nabi tidak ucap mengikut hawa nafsu apa yang di ucap adalah wahyu dari ALLAH.Bila Turunnya ayat "Sampakanlah kepada kaum kerabat mu yang terdekat"seterus nya Nabi sabda."Siapa yang akan ku jadi Khalifah ku wasi ku selepas peninggalan ku".Sunni Tahu Bahawa ALI Yang Rasullah Tunjuk.Soalannya..Adakah Nabi Mungkir janji...jawabnya Tidak .Kenapa Ikut Abu Bakar Umar Ukhman.Dan tidak Imam Ali. Padahal Pintu kota Ilmu Rasul Dan Ulll amri yang taat perintah rasul.Hasan Hussin Rasul sabda Putra2 Ku. [shafman]
- INFORMASI YANG LUAR BIASA !
BERARTI SAYA SELAMA INI TELAH MENJADI KORBAN...KARENA TIDAK SAMPAINYA ILMU TENTANG AHLULBAYT RASULULLAH SAW.
BAGI SAYA, SIAPAPUN YANG MEMBANGKANG TERHADAP SERUAN RASULULLAH SAW!, MAKA BUKAN PENGHALANG UNTUK KEMBALI MENGALI INFORMASI YANG JARANG TERDENGAR SEPERTI INI.
MOHON DIADAKAN SEMINAR ATAU DAKWAH BEKERJASAMA DENGAN TOKOH ULAMA-ULAMA DI INDONESIA.
TRIMS
[salmin]
- Bagi yang belum mengetahui...Allah SWT telah mensifati akal insan ini dengan ilmu maka belajarlah. Sungguh Ta'at kepada Rasulullah SAW adalah ke Ta'atan kepada Allah SWT, memang kalau terus berdebat tanpa diimbangi rasa bahwa kita ini bersaudara maka yang muncul adalah prasangka buruk. Mari kita belajar dari sejarah Beliau SAW dari referensi yang sungguh2 otentik sehingga kita akan tahu kebenarannya. Sahabat Beliau SAW terbagi-bagi; ada yang benar2 ta'at sampai syahid, ada yang ikut berperang namun hatinya mendua sehingga tidak pernah terbukti mengayunkan pedang membela Beliau SAW, ada Islamnya kamuflase karena yang lain telah masuk islam. Saran ; mari kita belajar dan terus belajar sampai kita mengetahui hakekat sebenarnya. Masa anak/cucu yang ada di rumah tidak lebih tahu siapa sebenarnya orang tua mereka dibandingkan tetangganya. [Abdi]
- ahlbayt yg disucikan... apakah termasuk istri2 nabi...?? jika ada perdebatan ga berujung:> baca Alquran : surat: At Tahrim...!!
sekaligus jg menjawab, tidak mungkinnya usia Aisyah yg diriwayatkan masih kanak2...!!
jg tidak terdukungnya klaim pihak2 yg menyatakan dia sbg istri kesayangan...!!!
baca, pahami dulu sblm komentar....[aris]
- AYAT-AYAT AL-QUR'AN DAN HADITS NABI SAW YANG MENGISYARATKAN TENTANG KEKHALIFAHAN ABU BAKAR ASH-SHIDIQ RA
Firman Allah Surat Al-Maidah 54
Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.
Firman Allah
Katakanlah kepada orang-orang Badwi yang tertinggal: "Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih".
Firman Allah
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.
Firman Allah
(juga) bagi orang fakir yang berhijrah[1466] yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar.
Hadits Rasulullah SAW,
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
Dari Huzaifah ibnul Yaman ra, bersabda Rasulullah SAW, " Ikutilah dua orang sesudahku Abu Bakar dan Umar".
Hadits Rasulullah SAW,
Abul Qosim Al-Baghawi dengan sanad yang baik meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ عَبْدُ الله بن عُمَر قَالَ , اَنَّهُ سَمِعَ رَسُولُ الله صَلَى الله عَلَيْه وَسَلَم قَالَ : يَكُونُ خَلْفِى إِثْنَا عَشَرَ خَلِيْفَةً : أَبوُ بَكَر لاَ يَلْبَثُ إِلاَّ قَلِيْلاً
Dari Abdullah bin Umar ra ia berkata : dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "di belakangku ada dua belas khalifah, Abu Bakar hanya berkuasa dalam waktu sebentar".
Semua ulama bersepakat akan kesahihan hadits ini, hadits ini juga diriwayatkan dari berbagai jalan.
Hadits Rasulullah SAW,
إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ
Sesungguhnya, orang yang paling setia dalam persahabatannya denganku dalam hal hartanya adalah Abu Bakar. Andaikata saya mengambil seorang menjadi sahabat (khalil) selain rob-ku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai sahabat (khalil), namun saya jadikan dia sebagai saudara seagama yang penuh cinta. Tidak akan tersisa satupun pintu di masjid ini kecuali akan di tutup, kecuali pintu Abu Bakar.
Hadits Rasulullah SAW,
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاكِ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ أَنَا أَوْلَى وَيَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ
Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW berkata kepadaku ketika beliau sedang sakit, "panggilkan untukku Abu Bakar, Bapakmu dan saudaramu (Abdurrahman bin Abu Bakar) saya akan menulis satu wasiat untuk Abu Bakar hingga tidak ada lagi yang mengatakan aku lebih berhak atau ada yang masih berkeinginan". Dan selajutnya beliau bersabda, "sesungguhnya Allah dan kaum muslimin menolak kecuali Abu Bakar".
Hadits Rasulullah SAW,
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ مَرِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّهُ رَجُلٌ رَقِيقٌ إِذَا قَامَ مَقَامَكَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ قَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَعَادَتْ فَقَالَ مُرِي أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ فَأَتَاهُ الرَّسُولُ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abu Musa Al-Asy'ary berkata, Rasulullah SAW sakit, dan sakitnya semakin parah, maka Rasuluillah SAW bersabda, "suruhlah Abu Bakar, hendaknya ia mengimami manusia sholat". Aisyah berkata, "sesungguhnya ia laki-laki yang sensitif (hatinya cepat terenyuh). Jika ia menempati posisimu, maka ia tidak akan bisa menjadi imam. Maka Rasulullah bersabda, "suruhlah ia agar menjadi imam sholat". Aisyah mengulangi apa yang dikatakannya tadi. Rasulullah berkata lagi, "suruhlah ia agar menjadi imam sholat". Sesungguhnya kalian adalah laksana wanita-wanita yang ada dizaman Yusuf". Kemudian datanglah seorang suruhan menemui Abu Bakar. Dan dia menjadi Imam ketika Rasulullah SAW masih hidup.
ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahu anhu adalah khalifah yang dipilih Rasulullah SAW atas perintah Allah untuk menggantikan beliau memimpin kaum muslimin.
[huseinhaidar]
- semua imam mahzab suni berguru pada ahlulbai terutama, jafar sidiq, untuk ilmu-ilmui agama sanadnya suni sampali Ali kw, untuk pemimpin politik suni menganggap tidak ada yang maksum meskipun daari abasiah atau umayah, tapi untuk ilmu gerbangnya Ilmu adalah Ali hingga sampai Muhammad saw [murid ali]
- BERHATI-HATILAH ANDA DARI AJARAN AGAMA SYIAH YG SESAT..!
sejak th 1984 dengan tegas MUI menetapkan bahwa ajaran agama syiah '' SESAT DAN MENYESATKAN '' diantara kesesatan agama syiah adalah syiah menuduh istri Rasululah Muhammad saw berzina, agama syiah tidak mengakui khalifah abu Bakar, Ummar, Ustman rda bahkan menuduh para khalifah Kafir , yg lebih menyedihkan agama syiah menganggap imam Bukhari-Muslim kafir. Diantara biang kerok kekacauan dan bentrok di Indonesia adalah faham-faham agama syiah yg mengatakan bhw imam-imam syiah ma'sum, ini kan sungguh tollol bahkan derajatnya melebihi malaikat. sungguh kedustaan yg tolol. saudara-saudaraku ,maka berhati-hatilah anda dari menyusupnya ustad-ustad syiah yg sesat masuk ke masjid-masjid NU dan Ponpes NU di seluruh Indonesia.
[ ja'far ]
- agama syiah adalah agama yg datang dari para Pendusta -pendusta yg berasal dari Iran yg terkutuk. Iran adalah negri yg penuh fitnah dan bencana, yg berusaha menyebarkan kesesatan ttg agama Islam. Terbukti negara-negara yg terdapat penduduknya beragama syiah selalu dillanda kekacauan, fitnah, perang saudara, Pembunuhan oleh penguasa yg menganut agama syiah. Maka waspadalah anda,istri dan anak-anak anda. Contoh : 15 ribu Rakyat Iran kocar-kacir mencari suaka ke negri tetangga. 570 ribu rakyat Suriah mencari perlindungan ke negri yg mau menerima- 44 ribu rakyat suriah tewas krn perang saudara atau dibunuh oleh penguasa - 11 ribu rakyat suriah hilang tdk jelas mereka kemana perginya setelah ditangkap oleh penguasa syiah. Inilah contoh satu negara yg sungguh menyedihkan, negri yg banjir darah, tdk lg berharga nyawa manusia dan anak-anak, dimana hati nuranimu ketika nyawa manusia dan anak2 terbunuh dan meninggalkan kesengsaraan bagi yg cacat dan hilangnya keluarga dan derita.
[ siraj ]
- BERHATI-HATILAH ANDA DARI AJARAN AGAMA SYIAH YG SESAT..!
sejak th 1984 dengan tegas MUI menetapkan bahwa ajaran agama syiah '' SESAT DAN MENYESATKAN '' diantara kesesatan agama syiah adalah syiah menuduh istri Rasululah Muhammad saw berzina, agama syiah tidak mengakui khalifah abu Bakar, Ummar, Ustman rda bahkan menuduh para khalifah Kafir , yg lebih menyedihkan agama syiah menganggap imam Bukhari-Muslim kafir. Diantara biang kerok kekacauan dan bentrok di Indonesia adalah faham-faham agama syiah yg mengatakan bhw imam-imam syiah ma'sum, ini kan sungguh tollol bahkan derajatnya melebihi malaikat. sungguh kedustaan yg tolol. saudara-saudaraku ,maka berhati-hatilah anda dari menyusupnya ustad-ustad syiah yg sesat masuk ke masjid-masjid NU dan Ponpes NU di seluruh Indonesia.
[ ja'far ]
- Sudahlah sodara2ku
jangan saling menghujat sesama islamnya,kita semua sama2 islamnya gak peduli sunni ato syiah justru kita harus bersatu melawan yahudi zionis israel dan nashrani,.. Dan itu yg terpenting. [Rieda]