| Kode: 345642 | Tanggal: 2012/09/08 - 00:46 | Sumber: www.abna.ir | print |
Menurut Kantor Berita ABNA, penyelenggaraan KTT XVI GNB Teheran 2012 telah berlalu, bagi Republik Islam Iran kesuksesan dalam penyelenggaraan pentas akbar internasional tersebut merupakan kebanggaan tersendiri dan akan menjadi salah satu catatan bersejarah dan penting bagi Negara tersebut. Suara pro dan kontra pasca penyelenggaraan KTT GNB Teheran masih juga terngiang sampai saat ini. AS dan Israel yang dengan suksesnya Iran sebagai penyelenggara gagal menjalankan misi mereka buat mengucilkan Iran, santer terdengar justru pasca KTT tersebut AS dan Israel yang malah tersisih. Embargo ekonomi Barat dan sanksi yang diterapkan AS hanya akan menjadi buah bibir saja tanpa bukti sebab kehadiran 120 lebih Negara di Teheran untuk menghadiri konferensi tersebut dimanfaatkan Iran sebagai ajang promosi dan membuka lahan kerjasama seluas-luasnya terhadap sesama anggota Negara-negara GNB.
Disela-sela kepadatan jadwal agenda sidang dalam konferensi yang berlangsung selama 2 hari dipenghujung agustus lalu, kepala-kepala Negara anggota GNB menyempatkan diri untuk satu demi satu bertemu dan berbincang-bincang dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran (Rahbar) Ayatullah Sayyid Ali Khamanei. Diantara hal menarik dari sekian pertemuan penting tersebut, untuk menemui Rahbar Presiden Pakistan melepas sepatunya dan memasuki ruang pertemuan dengan tanpa bersepatu, padahal ruangan pertemuan tersebut tidak mengharuskan pejabat yang masuk harus melepaskan sepatu. Tidak hanya itu, Asif Ali Zardari, presiden Pakistan tersebut untuk menemui Rahbar bukan mengenakan jas sebagaimana pakaian resmi yang biasa dikenakan kepala Negara lainnya, melainkan mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan kopiah yang berwarna sama yang menurut pengakuannya adalah pakaian yang biasa dia kenakan jika shalat berjama'ah ke masjid. Turut mendampingi beliau adalah Ketua Partai Rakyat (putera Benasir Buto) yang menggunakan pakaian dengan jenis yang sama dan turut tidak mengenakan sepatunya.

Ketika ditanya mengapa harus melepas sepatunya ketika menemui Rahbar, Presiden Pakistan menyebutkan telah menjadi tradisi masyarakat Pakistan (baik muslim, Kristen maupun Hindu) jika memasuki tempat-tempat yang disucikan dan diagungkan mereka melepaskan alas kaki sebagai bentuk penghormatan. Menurut beliau, ruang pertemuan tempat Rahbar berada disitu adalah tempat yang layak untuk dimuliakan dan diagungkan. Menurut akunya pula, masyarakat Pakistan sangat memberikan pengagungan kepada keturunan Nabi, dan Rahbar selain sebagai pemimpin agama juga seorang sayyid.
Tidak hanya itu, Hina Rabbani Khar Menteri Luar Negeri Pakistan yang turut hadir bersama rombongan presiden, juga hadir dalam penampilan yang berbeda dengan biasanya. Hari pertemuan dengan Rahbar ia mengenakan pakaian yang menutup sekujur tubuhnya lengkap dengan jilbab yang menutupi seluruh bagian kepalanya kecuali wajah.

DR. Ali Akbar Velayati, penasehat ahli Rahbar menyikapi kejadian tersebut dengan menyatakan, bahwa hal tersebut menunjukkan keberkahan Republik Islam Iran dan mazhab Syiah yang meskipun tanpa harus mengemis dan meminta, Iran tetap dihormati dan disegani Negara-negara lain, baik Negara muslim maupun Negara non muslim.