Penjelasan Al-Qur'an Mengenai Sifat-sifat Orang Munafik
Kode: 335793 Tanggal: 2012/08/10 - 17:22Sumber: www.abna.ir 

 Penjelasan Al-Qur
Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Makarim Syirazi dalam lanjutan kelas tafsir al-Qur'annya di masjid kompleks Haram Sayyidah Maksumah Qom Iran, membacakan ayat -ayat suci al-Quran dari surah al-Ahzab dalam ucapannya:

11. Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan mereka diguncangkan dengan guncangan yang sangat.
12. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hati mereka berkata, “Allah dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya (janji bohong).”
13. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), di sini bukanlah tempatmu (untuk bertinggal), maka kembalilah kamu.” Dan sebagian dari mereka minta izin kepada nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.
14. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian mereka diminta supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.
[Qs. Al Ahzab: 11-14]

Mengenai tafsir keempat ayat dari surah al Ahzab tersebut, Ayatullah Makarim Syirazi mengatakan, "Peperangan Ahzab merupakan medan ujian yang sangat berat buat umat Islam, mereka terbiasa sebelumnya bercampur antara kaum beriman dengan munafik, namun mereka terpisah di medan jihad."

Ayatullah Makarim mengibaratkan terpisahnya golongan munafik dari kelompok orang-orang beriman di medan jihad seperti gandum berpisah dari kulitnya. "Di kalangan petani, sudah menjadi kebiasaan mereka menampi gandum dari tangkai di angin, ujian Tuhan bagaikan angin ini." jelas beliau.

Ulama Ahli Tafsir tersebut turut menyifatkan perang Ahzab adalah pengklasifikasian terhadap tiga golongan, 'Kelompok pertama adalah orang-orang munafik yang menunjukkan isi hati mereka dengan mengatakan: 'مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا' (orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya), 'مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا' (Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kita melainkan perkara yang memperdayakan saja), ayat 13 juga menunjukkan golongan ini: 'وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يا أَهْلَ يثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُم' (Wahai penduduk Yathrib, tempat ini bukan tempat bagi kamu, oleh itu baliklah), mereka mencoba mempengaruhi penduduk madinah dengan kemunafikan."
Beliau menambahkan, "Di dalam ayat ke-4 surah al-Falaq, Allah (s.w.t) berfirman: 'وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ' (dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (sehingga mereka melemahkan setiap tekad yang telah diputuskan), mereka ini juga adalah orang munafik yang mengosongkan hati manusia, sekarang pun seperti itu juga, mereka akan berkata untuk menimbulkan keraguan dan kekhawatiran, "Amerika dan Israel akan menyerang, marilah kita berdamai dengan mereka."

Ulama marja taqlid Syiah tersebut menerangkan kelompok kedua dengan mengatakan, 'Kelompok kedua juga gemar mencari alasan dengan cara berdusta sekalipun, di mana mereka mengatakan 'Wahai penduduk Yathrib, tempat ini bukan tempat bagi kamu, oleh itu baliklah'."

Mengenai sebab umat Islam digelar sebagai Ahli Yathrib, beliau menerangkan, "Jawabannya adalah, ketika Nabi datang, kota ini bertukar nama. Ini disebabkan Yathrib bermakna 'kota tercela' di mana setelah kehadiran Nabi Saww kemudian berganti nama dengan sebutan Madinatul Rasul, yaitu kota Nabi. Kemudian setelah 5 tahun hijrah Nabi, Yastrhin sudah masyhur dilkalangan orang banyak dengan sebutan Madinah. Namun satu golongan berkata 'Wahai Ahli Yathrib', yaitu mencari alasan dengan berkata 'Kembalilah ke zaman Jahiliyah dan janganlah mengikuti langkah-langkah nabi. Oleh itu mereka ini berada di bawah dakwah dan ajakan kaum munafik."

Ayatullah Makarem Syirazi memperkenalkan golongan ketiga, "Kelompok yang ketiga adalah, beberapa orang yang datang kepada Rasulullah dan berkata, "Rumah-rumah kami dalam bahaya, izinkanlah kami pergi untuk melihat isteri dan anak kami: "وَيسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِي يقُولُونَ إِنَّ بُيوتَنَا عَوْرَةٌ" (Dan sebahagian dari mereka pula meminta izin kepada Nabi hendak balik sambil berkata: 'Sesungguhnya rumah-rumah kami memerlukan penjagaan'). Al-Quran mengatakan rumah-rumah mereka masih utuh, mereka berdusta, was-was orang munafik mempengaruhi hati dan mereka ingin lari dari medan perang."

Beliau mengatakan, "Orang yang lemah imannya adalah seperti ini, al-Quran berkata betapa lemahnya sebagian dari mereka ini, andainya kelompok musuh memasuki Madinah dan mengatakan kepada mereka sembahlah berhala, maka pasti mereka ini menyimpang dari menyembah Tuhan sambil patuh kepada musuh. Jikalau musuh menyerang, mereka menyerah dengan mudah sekali."

Di samping itu beliau mengingatkan tentang kejahiliyaan di zaman pemerintahan monarki syah, "Ada yang menceritakan ketika agen taghut musuh menyerang pejuang revolusi, terdapat beberapa orang yang lemah di medan. Apabila melihat musuh, mereka mula berpaling dari revolusi sehingga turut berpaling dari keimanan kepada Allah."

Ayatullah Makarim menambahkan, "Orang munafik tidak punya apa-apa melainkan terdapat tanda-tandanya di zaman Nabi Saww dan para Imam as. Tanda-tanda itu sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran, 'hati-hati mereka ada penyakit'.
Beliau selanjutnya menambahkan, "Insan yang sehat mempunyai satu wajah, namun munafik seperti mempunyai dua wajah, satu ditujukannya kepada umat Islam, satunya lagi buat orang-orang kafir."

Beliau menjawab syubhat tentang mereka dari golongan Ahlusunnah yang mengatakan bahwa para sahabat semuanya adil, "Saudara-saudara Ahlusunnah berkata, seluruh sahabat Nabi adalah adil, dan para sahabat dikatakan orang yang mengenali baginda di zamannya. Kami mengatakan bagaimana pula dengan orang munafik? Mereka juga kenal Nabi Saww, lalu apakah orang munafik juga adil menurut akidah mereka? Saya belum pernah lihat mereka memberikan jawaban."
Guru besar hauzah ilmiyiah Qom tersebut berkata, "Penjelasan mengenai tanda-tanda orang munafik diterangkan juga dalam riwayat, "Tiga perkara yang ada di pada orang munafik:

ثَلاثٌ مَن كُنَّ فيهِ فَهُوَ مُنافِقٌ وَ اِن صامَ وَ صَلّى وَحَجَّ وَاعتَمَرَ وَقالَ «اِنّى مُسلِمٌ» مَن اِذا حَدَّثَ كَذِبَ وَ اِذا وَعَدَ اَخلَفَ وَ اِذَا ائتُمِنَ خانَ

Jika dia shalat, haji dan umrah maka dia akan berkata: Aku seorang muslim, jika dia berbicara maka dia akan berbohong, jika dia berjanji maka dia tidak menunaikannya, jika dia beramanah maka dia akan berkhianat."
Beliau menambahkan, "Imam Sodiq berkata tentang tanda munafik, iaitu:

للمنافق ثلاث علامات: يخالف لسانه قلبه وقوله فعله وسريرته علانيته

Orang munafik ada tiga tanda: Hati mereka bertentangan dengan lidahnya, perbuatan bertentangan dengan perbuatannya, kenyataannya bertentangan dengan rahasianya. (Tarikh Ya'qubi, jilid 2 halaman 208), Imam Ali berkata, "Orang yang paling munafik ialah mereka yang mengajak kepada ketaatan sementara dia sendiri melakukan maksiat."

Diujung penjelasannya Ayatullah Makarim Syirazi berkata, "Marilah kita bersama-sama berusaha di bulan Ramadhan ini, Insyallah semoga menjadi seorang mukmin yang suci dari berbagai bentuk kemunafikan dan sifat berwajah dua."
 




Email:
Nama:
Pesan:
Enter security code
erfan
ABNA World Service
Englishالعربية
Françaisاردو
Españolفارسی
Русский中文
DeutschTürkçe
Azeri (cyr) Azeri (ltin)
Melayu Indonesia
বাংলা हिन्दी
Swahili Myanmar
BosanskiABP sites
  Berita Terakhir